Pages

Saturday, March 19, 2011

To : sAHABAT (Seri II)

Banyak orang yang sanggup memberi pengertian kepada musuh, maka seharusnya mereka lebih mampu melakukannya kepada sahabat.
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata:
ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di hati
jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa permusuhan
kuucapkan salam di saat berjumpa lawan
agar menahan bibit permusuhan
dengan ucapan salam kutampakkan wajah berseri kepada orang yang kubenci
seakan berbunga hatiku penuh kecintaan
manusia adalah penyakit
penawarnya dengan cara mendekati
jika menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati
Qadhi at-Tannukhi berkata:
temuilah musuhmu dengan muka ceria
seakan-akan begitu segar indah berseri
orang yang paling tenang akan menemui musuhnya
dengan memendam dengki namun berbaju cinta
penuh arti
kelembutan adalah anugerah
ucapan yang terbaik adalah kejujuran
kebiasaan gurau berlebihan akan membuka pintu
permusuhan
Seorang penyair berkata:
jika tidak sanggup melawan musuhmu maka coba dekati
mulailah dengan gurau
karena gurau membuka kedekatan hati
dekatilah
karena api akan padam oleh air yang meredamnya
api membuat matang
namun wataknya selalu membakar
Oleh karenanya, tidak baik jika tetap bertahan untuk saling menjauhi atau memutuskan
hubungan ukhuwah hanya karena kesalahan kecil yang sulit dihindari selama masa persahabatan.
hubungan kita tetap tak bergeming sepanjang waktu
namun keretakan yang kini terjadi
hanya ibarat tetes hujan musim semi
dikau takut
ketika melihatnya begitu deras membasahi bumi
betapapun derasnya hujan musim semi
ia tetap akan segera berhenti
Jangan menyakiti hati sahabat yang datang untuk minta maaf dengan penuh penyesalan
atas kesalahan yang pernah ia buat. Perlakukanlah sahabatmu sebagaimana kamu suka
diperlakukan jika berada dalam posisinya.
jika seorang sahabat datang memohon maaf
dengan pengakuan atas kesalahan yang dilakukan
jagalah jangan sampai engkau memarahinya
dan maafkanlah
sesungguhnya pemaaf adalah identitas pribadi sejati
Yunus an-Nahwi berkata: “Jangan musuhi seseorang, jika kamu mengira ia tidak akan
memusuhimu. Jangan ragu untuk bersahabat dengan siapa saja, sekalipun kamu kira ia tidak akan menguntungkanmu. Sesungguhnya kamu tidak pernah tahu, kapan harus waspada terhadap musuh dan kapan perlu bantuan seorang sahabat. Jika ada yang meminta maaf darimu, maka maafkanlah, sekalipun kamu mengetahuinya hanya berpura-pura, agar kamu tidak banyak menyalahkan manusia.”
Betapa indah pepatah seorang Arab Badwi yang mengatakan: “Orang yang penuh kasih sayang adalah yang mau memaafkan dan mendahulukan kepentingan saudaranya.”
Abdullah bin Mu’awiyah bin Ja’far bin Abu Thalib berkata:
jangan surut kasihmu terhadap sahabat
hanya karena melakukan satu kesalahan
tidak ada sahabat yang bebas dari kekurangan
walau setinggi apa pun idamanmu ketika mencari
jika benar tuduhanmu bahwa aku pernah menyakitimu
biarlah kuterima, tapi di manakah perasaan ukhuwahmu
jika kamu menyakiti untuk membalas perbuatanku
di mana kebaikan dan keluhuran budimu
Seorang penyair berkata:
jangan terlalu banyak menyalahkan
karena waktu kita sangat sempit
suasana terkadang tenang
namun terkadang juga bergejolak
aku tak pernah menangisi atau kecewa
karena pasang surut sikapnya
hanya aku betul-betul menangis
ketika ia pergi tak kembali
ukhuwah mengikat begitu banyak manusia
jika mereka sudah bersatu
tak terasa kesusahan masa lalu
barangkali sisa umur kita terlalu pendek
buat apa kita terus saling menyalahkan
tanpa mengenal waktu
Penyair lain berkata:
mulai hari ini kita kembali saling kenal
menutup lembaran hitam masa lalu
seakan tiada kejadian atau peristiwa
seakan tiada ‘kamu pernah bilang’
atau ‘kami pernah berkata’
jika benar-benar tiada pilihan kedua
maka tegurlah dengan baik tanpa membawa duka

No comments:

Post a Comment