TAHUKAH ENGKAU, DIMANA IA BERSEMAYAM?
tahukah engkau, di mana ia bersemayam?
dialah saudaramu…ke mana ia melangkah?
sanggupkah matamu memandangnya?
sedang matanya tak sanggup menatapmu?
saudaramu hidup laksana sejarah
berjalan beriringan mengikuti langkahmu
tanpa bahasa yang dapat menyapa
bercucur air mata jika bersua
jika bumi menghimpitnya
hanya hatimu tempat mengadu
engkau bermurah hati tanpa pamrih
memupus duka nestapa yang ia derita
engkau memikul beban berat tanggungannya
ketika letih pilu merasuk kedua bahunya
jika bumi menghimpitnya
hanya hatimu tempat mengadu
engkau selimutkan tirai di sekujur tubuhnya
ketika syaitan datang memperdayanya
engkau tersenyum bangga dengan ranum buah akhindit
engkau bahagia pula dengan kesuburan
ladang dunia saudaramu
jika bumi menghimpitnya
hanya hatimu tempat mengadu
***
Sepertinya begitu indah untaian bait seorang penyair berikut ini:
duhai, ingin rasanya aku tetap hidup bersama mereka
sehingga jika perpisahan harus tiba saat itulah ajalku pun tiba
rumahku ada di antara rumah-rumah mereka
di antara pusara mereka pula
jasadku terbaring
Penyair lain berkata:
tiada yang berubah pada diriku sejak kita berpisah
selain selaksa duka dan derita yang mengharu biru
adakah orang yang bahagia tinggal di rumah
nan indah
tanpa orang-orang terkasih yang mengelilinginya
Pujangga lain bersyair:
dulu kami selalu mengunjungimu
saat itu kita sekampung, namun setelah berpisah
kita harus menghitung waktu untuk menemuimu
padahal gejolak rindu hati ini tiada terperi
Sementara penyair lain berujar:
aku heran, mengapa selalu merindukan mereka
menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang kutemui
padahal mereka di sini bersamaku
mataku mencari mereka kesana-kemari
padahal mereka ada di dekat pelupuknya
hatiku bergejolak merindukannya
padahal mereka ada di antara tulang rusukku
Berikut ini ungkapan indah lainnya dari seorang penyair:
sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
aku tidak akan berhenti memujimu
dari kejauhan, bersama untaian doa
jiwaku akan selalu merindukanmu
bersua bersama penuh ketulusan dan cinta
Penyair berikut ini mencoba menggambarkan kebanggaan dan kerinduan terhadap sahabat:
ketika orang yang mengasihimu ini mencium
semerbak aroma kerinduan
kedua matanya tergerak melantunkan ayat-ayat
dari surah al-Mursalat
dalam kelapangan dada ini
sesukamu engkau boleh tinggal
karena itulah arti tartinggi bagi hati yang bersemi
dapatkah malam-malam ini membahagiakan hati kita
diteruskan oleh fajar Subuh
agar menghapus penantian panjang penuh duka
sahabat-sahabatku…
menjaga cinta adalah ibarat hutang
kita masih tetap separti dahulu kala
Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab: “Pertemuan dengan sahabat dapat
menghilangkan duka.”
Sufyan pernah ditanya: “Apakah kebahagiaan hidup itu?”
Ia menjawab:“Berjumpa dengan sahabat.”
Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, karena menurut pepatah: “Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna.”
Seorang penyair berkata:
jiwanya adalah jiwaku, jiwaku adalah jiwanya
hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya
Perasaan yang tulus membuat seseorang merasa sangat kehilangan ketika berjauhan. Ia
tersiksa karena berpisah dengannya. Perasaan ini diabadikan oleh seorang penyair dalam untaian puisi, ketika ia menangisi kepergian sahabatnya:
ketika kita harus berpisah
antara aku dan engkau
seperti aku dengan seorang raja
karena telah lama kita selalu bersama
namun kini kita lalui malam tanpa kebersamaan
Atau separti yang dinyatakan oleh seorang penyair:
aku sang musafir dengan dua jiwa
jiwa pertama ikut bersama
sedang jiwa kedua tergadai sahabat dan saudara
Penyair lain mengatakan:
semua nestapa yang menimpa sepanjang masa
kurasa ringan tak berarti
kecuali perpisahan dengan orang-orang tercinta
Betapa harunya perpisahan antara orang-orang yang saling mencintai, baik setelah berpisah atau ketika awal perpisahan.
Seorang penyair melukiskan:
biarkanlah kata sabar menghiasi ucapan perpisahan
dari orang yang memendam rindu kepada dirimu
menyesal atas semua yang telah berlalu
karena tiada bekal untuk perjalanan abadi
Penyair lain berkata:
wahai Abu Bakar
sekalipun beribu peristiwa dan jarak memisahkan kita
kami tak pernah kehilangan nyawa
hanya gelura rindu yang menyesak di dada
diriku hampa karena tulus cintamu kini tiada
juga budi luhur yang menyingkap awan
penutup purnama
ketika kuhantarkan dirinya ke gerbang perpisahan
seakan kuhantar jasad orang tua ke haribaan abadi
ketika kulepas dengan lambaian perpisahan
seakan jiwaku sedang melepas seluruh
kebahagiaan diri
tak sanggup kutatap kepergiannya
karena tatapan hanya menambah pilu tak terperi
dulu, sebulan bagaikan sehari
namun kini, sehari bagaikan bulan-bulan
yang tak henti
No comments:
Post a Comment